Tentang Suara yang pernah Meluruhkan Naga

Gomar menatap bola mata yang ganas itu. Bola mata Herman Naga, jagoan lereng Ciremai yang ia kenal sejak kecil. Lingkaran bola mata itu seperti pintu lebar dan terbuka, menuju pusaran dunia yang luas tapi kosong.  

“Kamu dengar, A? Ada suara gemetar di dadamu . Kamu tahu ia jauh lebih kuat dari tajam golok di tanganmu,”  kata Gomar pelan.

“Golok ini akan mengkhianatiku, Gomar, karena sebentar lagi bakal menghisap darahmu, adik sepupuku sendiri!”

Mata Herman Naga semakin terbuka dan tajam. Ia berdiri tegap di depan Gomar dengan tangan menggenggam sebilah golok yang masih ragu ia ayunkan.

 “Kamu mungkin tak mengerti apa artinya, tapi kamu merasakannya. Getaran itu mulai mengalir ke lehermu, ke tulang punggungmu, ke betis hingga telapak kakimu. Dan lihat, sekarang tubuhmu hanya daging tak bertulang, seperti kapuk randu yang luruh.”

Angin berhembus dari daun-daun pohon randu. Serpihan kapuk beterbangan, melayang-layang di antara dua tubuh yang saling berhadapan. Beberapa di antaranya hinggap di rambut Gomar dan Herman Naga yang berkibaran.

***

“Gomar! Pegang erat pinggang Aa! Jangan sampai jatuh!”

Herman Naga terus melaju memacu motor Honda trailnya. Bukan di jalan aspal, tapi di tembok benteng Waduk Darma, sebuah tempat wisata di daerah Kuningan, Jawa Barat. Di belakangnya, Gomar, bocah kelas 6 SD berusia kurang dari 12 tahun, dengan wajah sangat ketakutan, mendekap erat punggung Herman.

Di sebelah kiri  bawah benteng itu adalahWaduk Darma yang curam. Banyak cerita, orang jatuh dan dihisap gelombang waduk kalau nekat duduk di atas benteng itu. Itu sebabnya di dinding benteng ada papan peringatan bertuliskan “Bahaya! Dilarang Naik di Atas Tembok!”

Di sisi kanan bawah benteng itu adalah pedestrian, tempat orang berjalan menyelusuri sambil menikmati keindahan waduk. Tapi seperti di mana pun, pedestrian lebih banyak dipakai oleh orang-orang untuk berjualan.

Gomar tentu ketakutan, karena kalau motor terjatuh ke kiri atau kanan, pasti fatal akibatnya. Teriakan histeris para pedagang dan pengunjung Waduk Darma semakin membuat Gomar takut. Namun, seperti biasanya, berbagai ketakutan kerap dilewati Gomar bersama Herman Naga dengan baik. Tak pernah ada kejadian fatal menimpanya. Hal ini yang membuat Gomar kembali tenang, dan menikmati sambil menunggu, apa yang akan terjadi berikutnya.

Peristiwa menegangkan seperti ini tak hanya sekali terjadi. Tapi berpuluh kali. Mungkin beratus kali. Saking seringnya, Gomar lupa kalau disuruh mengingat telah berapa kali ia melewati petualangan menakutkan bersama Herman Naga.

Ibu dan Bapak Gomar bukannya tega membiarkan Herman Naga mengajak Gomar di aksi-aksi berbahayanya. Bapak pernah memarahai Herman, dan Herman sudah beberapa kali berjanji untuk tidak mengulanginya. Peristiwa yang paling membuat murka Bapak adalah ketika ia melihat di tangan kanan Gomar ada tato bergambar kampak.

“Gomar, siapa yang bikin tato ini?”

“A Herman, Pak!”

“Kurang ajar! Kamu tahu, dengan tato di tangan, kamu nanti bakal kesulitan sekolah? Bakal susah kerja?” Gomar kecil tentu tak mengerti. Apa salahnya gambar gagah ini terpampang di lengannya?

Bapak pun melabrak Herman. Dan anehnya, Herman Naga tak pernah berani melawan Bapak. Bapak hanya bisa reda ketika Herman Naga memeluknya, mengakui kesalahannya, dan berjanji tak akan mengulangi apalagi melibatkan Herman untuk hal berbahaya.

Kalau Herman sudah begini, Bapak selalu saja luruh. “Mesti apa lagi?” Begitu pikir Bapak.

Dari peristiwa itu, Herman memang tak pernah menemui Gomar lagi. Sampai berbulan-bulan. Herman merasa berdosa dan menyesal. Ia sadar, kata-kata Bapak menancap di pikirannya. Dengan ia membuat tato di tangan Gomar yang masih berusia 12 tahun, berarti ia sudah menjerumuskan Gomar dari masa depannya yang cerah. Gomar akan mendapatkan masalah ketika harus melanjutkan sekolah.

Saat Herman sudah sadar untuk tidak melibatkan lagi Gomar di petualangan berbahayanya, Gomar malah merasakan hal lain. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Mungkin adrenalin dalam tubuh kecilnya sudah terbiasa aktif, sehingga saat kemudian tak pernah muncul dalam waktu lama, ia menagih jatahnya. Manusia tanpa keberanian dan tantangan, hambar jadinya. Begitu isi otak anak kecil yang sudah terkontaminasi naluri Herman Naga ini.

Lalu, diam-diam Gomar menemui Herman. Dan petualangan-demi petualangan berbahaya serta menegangkan itu pun kemudian terjadi berulang kali. Salah satu yang paling Gomar ingat adalah momen ketika ia diajak Herman Naga nonton Film Layar Tancap di Desa Gunung Manik, sebuah desa yang letaknya sekitar 10 kilometer di atas tempat tinggalnya. Layar Tancap adalah perayaan yang paling ditunggu-tunggu oleh siapapun, dan biasanya diselenggarakan oleh orang-orang kaya di kampung, di setiap kali ada hajatan perkawinan atau sunatan.  Bila ada layar tancap, semua pedagang dan orang-orang dari desa mana pun, seberapa jauh pun, datang berbondong-bondong.

Layar tancap adalah kegembiraan massal yang tak sering datang. Namun sayangnya, kerap kejadian ini juga menyebabkan keributan. Biasanya karena persinggungan anak-anak muda dari desa berbeda, yang sebelumnya sudah saling memantik permusuhan. Atau karena urusan perempuan. Atau, sesederhana karena ada orang mabuk yang mengamuk dan memulai perkelahian.

Akhirnya, layar tancap identik dengan keributan. Begitu pun yang  terjadi di malam itu. Dan siapa lagi pemantik keributan kalau bukan Herman Naga. Masalahnya sangat remah. Karena operator film tak kunjung juga memutar filmnya, Herman Naga mengamuk.

“Gomar, kamu tunggu di sini, Aa ke depan dulu ya,” kata Herman, sambil menyuruh Gomar duduk di dekat tukang bakso.

Herman menghunus goloknya, lalu dia menghampiri tempat layar dipancang.

“Bedebah! Apa gunanya layar ini kalo filmnya nggak mulai-mulai!”

Tanpa basa-basi, hanya dua kali tebas, tiang layar yang terbuat dari bambu pun tumbang. Layar rubuh. Herman kembali menghampiri tiang yang lainnya, dan kembali ia menebas dengan goloknya.

“Hoiiiii! Hajar orang itu! Kepuuuuung!”

Serta merta keadaan rusuh. Anak-anak muda dari kelompok lain, juga pihak keamanan mengepung Herman. Ada yang bawa parang, bawa golok, bawa balok kayu, dan batu.

Suara golok beradu, suara teriakan anak kecil dan ibu-ibu, bercampur baur semakin membuat suasana ricuh. Gomar bingung mesti bagaimana.

Tiba-tiba, denting golok dan teriakan semakin mendekat ke arahnya. Rupanya, Herman Naga memang membawa perkelahian menuju letak Gomar berada. Gomar gemetar. Rasa takutnya mulai meriap dari ubun-ubunnya. Ia menyesal, kenapa mengkhianati Bapak yang sudah melarang dia untuk ikut Herman ke mana pun dan apapun kegiatannya.

“Gomar! Berdiri di belakang Aa!” tiba-tiba seseorang melompat dan menyeret tangan Gomar. Ternyata itu Herman.

Beberapa detik kemudian, seseorang mengayunkan parangnya. Herman menangkis dengan golok. Trang!!!

Dari sebelah kiri, ia melihat balok kayu melayang. Dengan sigap, Herman menyambar Gomar bergulingan sambil menghindari sabetan balok kayu, lalu melompat ke atas motor trailnya yang memang ia parkir di situ.

“Gomar! Lompaaat!”

Gomar melompat, seiring mesin motor menyala. Saat Gomar hinggap di jok belakang Herman, motor pun melaju dengan roda  bagian depan seperti hendak terbang. Herman memacu motornya, dengan golok dijepit kedua gigi dan bibirnya. Kedua tangannya sibuk mengatur keseimbangan motor. Hampir saja motor terjatuh ketika ada seseorang melempar Herman dengan batang bambu. Beruntung, kemudian malam menenggelamkan mereka berdua.

***

“Gomar… Kamu harus pulang kampung sekarang juga,” suara seorang perempuan terdengar di seberang telpon. Gomar mengenali itu suara kakaknya.

“Ada apa, Ceu? Aku sedang banyak deadline nih,” Gomar terlihat agak malas-malasan.

“Bapak di rumah sakit, Gomar.”

“Huah? Kok bisa Ceu? Kenapa?” Gomar mulai panik.

“Kena bacok A Herman. Ada sedikit salah paham soal tanah.”

Dug! Herman kagetnya luar biasa. Ia tidak begitu percaya dengan ucapan kakaknya. Mana mungkin Herman demikian berani melukai Bapak, sementara yang dia tahu, Herman sangat segan dan begitu mengagumi Bapak?

Tapi, di tengah rasa tidak percayanya, darah Gomar mulai mendidih. Dadanya gemetar. Adrenalinnya yang sudah terasah sejak ia kecil bersama Herman, mulai mengalir meliputi sistem tubuhnya. Bagaimana pun pengaruh Herman sangat kuat. Sejak kecil, ia sudah terlatih untuk menghadapi secara langsung bahaya di sekitarnya. Sejak kecil, ia sudah terlatih untuk membunuh rasa takutnya. Hanya berbeda dengan Herman, Gomar tak pernah berhasil membunuh rasa malu dan rasa empati pada sekelilingnya.

Gomar memutuskan diri untuk pulang kampung saat itu juga. Ia menghadap redaktur atasannya,menceritakan kejadian keluarganya,sekaligus mengajukan permohonan dinas luar daerah, sehingga sambil pulang kampung, dia masih tetap bekerja. Tentu, sebagai salah satu wartawan andalan majalah itu, Gomar mendapatkan izin dengan mudah.

Gomar adalah seorang wartawan sebuah majalah berita umum di Jakarta. Kecintaannya pada bahasa, menulis dan bertualang, membawanya pada profesi sebagai wartawan. Baginya, wartawan adalah dunia yang ideal, karena betul-betul sesuai dengan karakternya.

Sejak kecil Gomar suka menulis, terutama menulis puisi. Kebiasaannya menulis sepertinya menurun dari kakeknya, seorang pengasuh pondok pesantren di wilayahnya. Walau kakeknya tidak bisa menulis huruf latin, kakeknya adalah penggubah pepujian berbahasa Sunda, yang ia tulis dengan aksara Jawi. Aksara jawi adalah tulisan arab berbahasa lokal. Pepujian karya kakeknya sangat populer dan hingga kini sering terdengar di surau-surau, dilantunkan di setiap habis azan, atau menjelang pengajian.

Aya manuk tikukur

Anu nuju tapakur

Nyindeuk di ujung lembur

Pinuh rasa sukur

(Ada burung tekukur

Sedang bertafakur

Bertengger di ujung dusun

Penuh rasa syukur)

Dari kakeknya di pesantren Gomar paham, bahwa bahasa itu memiliki daya gerak yang luar biasa. Susunan kata-kata, bahkan bunyi, memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

“Bahasa itu menyimpan rahasia jiwa,” begitu kata Kakek suatu ketika.

“Saat kita menguasai rahasia bahasa, berarti kita mengetahui rahasia jiwa. Sesuatu yang tak pernah terpahami oleh dunia logika.”

Dari situlah, Gomar mendalami bahasa. Di pesantren ia digembleng khusus oleh sang Kakek. Lalu tak tanggung-tanggung, Gomar memutuskan diri untuk mempelajarinya secara total di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, seiring berjalan masa ia kuliah.

***

Gomar melaju menyelusuri jalan alternatif, melewati Sadang, lalu Subang, Kalijati, Kadipaten, Majalengka, dan sampailah di rumahnya. Didih darahnya membuat ia hanya melumat jalan cukup 3 jam saja.

“Siapa yang memberi tahu kamu peristiwa ini?” Bapak, dengan suara parau, menginterogasi Gomar. Gomar sedikit bingung, kok sepertinya ayah menyesal Gomar datang dan menanyakan peristiwa sebetulnya.

“Ceuceu, Pak,” tukas Gomar.

“Sudah, nggak usah diperpanjang. Bapak khawatir dengan kamu. Selain itu, Bapak juga masih menyayangi Herman.”

Bapak lalu bercerita, bahwa Herman memaksa mengambil sawah Bapak seluas 5000 meter. Ia diprovokasi oleh ibunya, bahwa sawah itu adalah haknya, peninggalan dari neneknya. Bapak bukan niat mempertahankan sawah itu, tapi ia menjelaskan duduk persoalannya, bahwa sawah itu adalah warisan sah dengan surat resmi dari mendiang orang tuanya. Herman tak menerima, dan semua berujung di luka pada pelipis Bapak. Untung saja nyawa Bapak masih terselamatkan.

“Si Herman dikuasai amarah sama alkohol, Gomar. Begitulah kakak idolamu,” dalam sakitnya, Bapak masih bisa bercanda.

“Sudahlah, tanah kita masih banyak. Apa artinya tanah 5000 meter dibanding putusnya persaudaraan?”

Didih darah Herman langsung mereda. Apa yang dikatakan ayahnya sangat masuk akal. Yang tidak masuk akal, mengapa Herman tega melukai ayahnya?

Herman Naga bukan hanya adik sepupu Bapaknya. Tapi lebih dari itu. Beberapa kali nyawanya diselamatkan oleh Bapak.

Tahun 1982, Herman hampir menjadi korban penembakan misterius. Ia sudah didata oleh orang tak dikenal, yang mengunjungi desa dan  mencari Herman. Bapak kebetulan adalah seorang Kuwu alias Kepala Desa di wilayah itu. Setelah Bapak mencari tahu, ternyata orang-orang itu adalah intel Kodim, yang menyisir jagoan-jagoan perusuh di wilayahnya.

Beberapa hari kemudian, orang-orang itu membawa Herman Naga. Namun dengan sigap, beberap jam kemudian bapak menyusulnya ke Kodim dan membawa Herman pulang.

Perlu diketahui, saat itu, hampir setiap minggu ada saja mayat ditemukan di berbagai tempat. Di kolong jembatan, di pinggir kali, di sawah, atau di jalanan. Rata-rata, ciri mayat-mayat itu bertato, dan tangannya diikat di belakang. Lalu ada bolong bekas luka tembak di bagian kepala.

Menurut data yang ditemukan Bapak, Herman Naga adalah salah satu target di wilayahnya.

Herman Naga dikenal sebagai jagoan kampung yang pamornya sangat disegani oleh jagoan-jagoan lain. Sebagaimana Gomar dan Bapak, ia tinggal di sebuah desa bernama Sunalari, sekitar 5 kilometer di bawah Gunung Ciremai. Badannya tinggi kekar, dengan kumis tak terlalu tebal melintang di atas bibirnya.

Embel-embel Naga di belakang namanya berasal dari tato naga yang memenuhi tubuhnya.  Dari kedua sisi dadanya, sampai punggungnya, begitu juga di kedua lengan sampai kedua bahunya. Semuanya hanya memiliki satu jenis gambar: Naga!

Urat takut Herman Naga sudah hilang, entah siapa yang mencerabutnya. Begitu juga urat malunya. Ia tak segan memancing keributan di mana pun. Termasuk memiliki barang yang bukan haknya.

Banyak kasus kekerasan yang sudah tercatat, dan pihak kepolisian juga sudah bosan mengurusnya. Herman Naga pernah masuk penjara lebih kurang 5 tahun untuk kekerasan terhadap perempuan. Dan terakhir masuk kembali penjara karena mencincang seorang jagoan dari Sindang Panji walau tidak sampai meninggal. Korban dibacok di bagian kaki dan tubuh lainnya, hingga kini korban cacat total.

Kekerasan seperti itu sudah menjadi alasan cukup bagi pihak tertentu untuk mempetruskan Herman. Namun, Bapak, dengan segala kebijakannya, memperjuangkan hidupnya.

Gomar sampai tahu, Bapak kemudian menginisiasi perjanjian bermaterai, bahwa bila Herman tidak melakukan kegiatan kriminal lagi, maka keselamatannya akan dilindungi oleh pihak berwajib. Perjanjian itu ditandatangani pihak Polres, Kodim, perangkat desa dan tokoh masyarakat.

Sebagai tanda kesungguhan Herman Naga, maka Herman rela menghapus tatonya dengan setrika.Gomar adalah saksi, betapa sakitnya Herman, saat lempengan besi panas itu melumat setiap kulitnya, sehingga menciptakan gelembung-gelembung luka yang mengerikan. Sampai kini, seluruh tubuh Herman berjejak luka bakar.

Namun rasa sakit itu tak seberapa, dibanding rasa lega karena Herman terbebas dari proses penghilangan nyawanya. Herman pun sangat berterima kasih pada Bapak.

Itu sebabnya, Gomar sampai detik ini masih penasaran dan ingin bertanya, mengapa Herman Naga tega melukai Bapak yang sudah menyelamatkan nyawanya.

Maka tanpa sepengetahuan Bapak, Gomar memutuskan untuk mencari Herman Naga. Ia tak akan mempersoalkan hak waris yang sudah diikhlaskan Bapak. Ia hanya ingin bertanya, apa alasan Herman melukai Bapaknya.

***

Desa Sangiang sedang berkabut. Ini adalah tempat indah, yang pada tahun 1985 pernah dilalap longsor Gunung Ciremai. Ratusan mayat terkubur. Rumah-rumah hancur.

Saat ini, Sangiang menjelma desa yang menakjubkan, dan menjadi salah satu destinasi wisata di Majalengka. Gomar mendengar, Herman Naga sedang berada di tengah kabut putih desa para dewa ini.

“A Herman, apa kabar?” sapa Gomar tenang, saat ia menemukannya.

“Eh, Gomar adikku, Aa sangat baik. Kamu kapan datang?”

“kemarin, A. Aku baru saja datang dari rumah sakit menjenguk Bapak.”

Herman terpaku, seperti patung. Tak ada suara sepatah kata pun.

“Aku tahu apa yang akan kamu lakukan, Adikku, Gomar. Aku siap.”

“Saya tidak akan melakukan apa-apa, A. Bapak dan aku sudah ikhlas. Silahkan ambil sawah itu. Yang ingin aku tanyakan, mengapa Aa tega melukai Bapak?”

Herman terdiam. Kabut menipis. Suasana menjadi lebih terang. Sepertinya, Tuhan memang ingin membiarkan semua orang menyaksikan peristiwa ini dengan benderang.

“Sudahlah Gomar. Aku pastinya memiliki alasan mengapa aku melakukannya,” kata Herman.

“Melukai orang yang sudah menyelamatkan nyawamu, A?”

“Diam Gomar! Lebih baik tinggalkan aku, dan biarkan urusan kita selesai sampai di sini!”

“Aa sudah berjanji untuk tidak melakukan kekerasan lagi. Tapi aku mendengar Aa beberapa kali masih melakukannya. Dan ironisnya, justru saat ini terjadi pada orang yang telah menyelamatkanmu?”

Herman menghunus golok, dan melemparkan sarangnya, “Anjing! Dengar Gomar, biar kamu adik yang aku sayangi, aku tak segan mengeluarkan darahmu!” Dasar Herman Naga, temperamennya begitu mudah tersulut.

Namun sama dengan Herman, urat takut Gomar sudah tercerabut. Dan Herman yang melakukannya.

“Kamu dengar, A? Ada suara gemetar di dadamu . Kamu tahu ia jauh lebih kuat dari tajam golok di tanganmu,”  kata Gomar pelan.

“Golok ini akan mengkhianatiku, Gomar, karena sebentar lagi bakal menghisap darahmu, adikku sendiri!”

Mata Herman Naga semakin terbuka dan tajam. Ia berdiri tegap di depan Gomar dengan tangan menggenggam sebilah golok yang masih ragu ia ayunkan.

 “Kamu mungkin tak mengerti apa artinya, tapi kamu merasakannya. Getaran itu mulai mengalir ke lehermu, A, ke tulang punggungmu, ke betis hingga telapak kakimu. Dan lihat, sekarang tubuhmu hanya daging tak bertulang, seperti kapuk randu yang luruh.”

Angin berhembus dari daun-daun pohon randu. Serpihan kapuk beterbangan, melayang-layang di antara dua tubuh yang saling berhadapan. Beberapa di antaranya hinggap di rambut Gomar dan Herman Naga yang berkibaran.

Brukkkkkkk!

Tubuh Herman yang tinggi dan berat  itu tiba-tiba terjatuh. Benturannya menyebabkan debu dan kapuk yang semula berserakan di tanah menghambur. Serpihan benda putih ringan itu kembali beterbangan. Herman Naga yang Ganas, yang cerita keberingasannya melegenda ke desa-desa, kini seperti kain basah yang lemas. Bahkan untuk menggerakkan jari jemarinya saja ia tak kuasa.

Dari surau yang jauh, lamat-lamat terdengar suara adzan maghrib mengalun. Angin menjelma simfoni, yang kelembutannya kembali menyusun satu demi satu partikel semesta yang berserakan. Bumi pun istirah, tenggelam dalam malam yang indah.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *